Autumn Rhythm Lukisan Perang
Lukisan
Autumn Rhythm. Lukisan yang dibuat oleh Paul Jackson Pollock. Besar Lukisan 207
inci, media yang dipakai cat Enamel diatas kanvas. Lukisan ini berada di
Metropolitan Museum of Art, New York City. Orang disana biasa menyebut museum
itu dengan nama The Met. Karya yang dibuat oleh seniman menganut gerakan seni
Abstrak Ekspresionisme.
Gerakan
seni Abstrak Ekspresionime sendiri ialah sekelompok individu yang memisahkan
diri dari gaya lukis konvensional. Ciri khas dari aliran ini cipratan cat dan
tidak berfokus penggambaran objek tetapi ekspresi emosi. Dalam Abstrak
Ekspresionime terdapat dua kecenderungan utama. Pertama yang mengutamakan
sapuan kuas, umumnya menekankan masalah gesture, gerak kuas dan tekstur cat (Action
Painting). Lalu yang kedua menggunakan metode pengaplikasian cat dengan teknik
tetesan, roll, spray, cat yang dimuncratkan dan lain – lain. Kritikus pun
hingga melirik mereka.
Kritikus
sangat mengkritik gerakan ini karena dianggap terlalu avant garde. Banyak seniman yang mengikuti gerakan ini salah
satunya Paul Jackson Pollock, seniman yang berpengaruh dalam gerakan ini. Jason
Pollock menjadi berpengaruh karena ia menciptakan karya – karya yang
revolusioner, salah satunya karya ini.
Lukisan
ini menampilkan tetesan cat diatas kanvas yang dijentikan, dipercikan,
digariskan, menggunakan berbagai benda seperti sekop, tongkat, kuas. Cat hitam
sebagai kerangka linear kompleks untuk lapisan awal yang menggunakan cat yang
diencerkan. Lapisan selanjutnya seniman menggunakan garis – garis putih,
coklat, dan biru pirus.
Tidak hanya garis saja didalam
lukisan ini cipratan catpun sangat diperhatikan oleh sang seniman. Cipratan ini
terdapat pada kiri atas lukisan, ciptratan cat yang sangat diperhatikan. Sangat
susah untuk menciptakan sebuah cipratan yang seperti ini agar tidak saling tumpang
tindih. Cipratan yang ada diperkirakan menggunakan kuas yang berukuran kecil
dengan metode menjentikan kuas dan
dipercikan.
Lalu
jika dilihat gambar diatas yang berwana cipratan yang berwarna coklat seniman
menggunakan sekop untuk menciptrakan catnya kedalam kanvas. Cipratan cat
lainnya seperti cipratan warna hitam menggunakan kuas ukuran sedang yang digaris
lalu dipercikan. Sedangkan cipratan warna putih menggunakan kuas ukuran kecil.
Warna biru dongker hanya dipercikan saja. Karya ini dinamakan Number 30.
Number
30 nama awal lukisan ini, dibuat pada Oktober 1950. Karya ini pertama kali
dipamerkan di Galery Betty parsons (1951, New York). Jacson Pollock dari tahun
1942 hingga 1952 selalu menomorkan karyanya daripada judul dengan alasan agar
para penikmat tidak terganggu dengan makna tersirat. Nomor – nomor yang
diberikan pada karyanya pun tidak berurutan. 1955 lukisan ini dipajang di
Galeri Sidney, pada tempat ini sang seniman mengubah namanya menjadi Autumn
Rhythm tanpa alasan yang jelas. Autumn Rhythm adalah judul yang dipikirkan oleh
Pollock sendiri, berbeda dengan karya lainnya mendapatkan saran judul dari
teman – temannya.
Karya
ini jika dilihat dari unsur yang ada, menciptakan ritme dan visual yang sangat
berlawanan seperti terang dan gelap, horizontal dan vertical, tebal dan tipis,
lurus dan melengkung. Bagian – bagian tekstur yang ada didalam lukisan seperti
dua warna yang menyatu menyerupai pusaran yang terbentuk oleh penumpukan cat,
hampir tidak terlihat jika dilihat sekilas oleh mata. Pewarnaan yang diciptakan
oleh Seniman sangat menggugah alam bawa sadar, walaupun citra Pollock dikenal
nonrepresentasional. Curiga karya ini menggambarkan lingkungan yang ada pada
perang dunia kedua, penyebab gerakan seni Abstrak Ekspresionisme terbentuk.
Gerakan
seni Abstrak Ekpresionisme dimulai awal 1940-an setelah perang dunia kedua.
Meskipun ia berasal dari New York selama perang dunia kedua, namun pengaruhnya
berasal dari banyak kalangan. Gerakan ini digambarkan dari sapuan kuas yang
berani, dan percaya pada kebebasan berekspresi individu. Para Seniman juga
ingin menggambarkan depresi dan krisis yang dibawa oleh perang dunia kedua. Gerakan
ini mencapai masa jayanya pada tahun 1942 hingga pertengahan 1950-an.
Dalam
penalaran yang saya dapatkan bentuk warna – warna cat yang berantakan dan
saling bertumpang tindih adalah gambaran dunia pada waktu perang dunia kedua.
Pada perang dunia kedua memang bisa terbayangkan dalam karya ini betapa
berantakan dunia pada waktu itu. Warna – warna yang ada pun memiliki arti
tersendiri seperti hitam.
Warna
hitam yang digunakan oleh seniman ini menggambarkan peluru dan mesiu yang
dikeluarkan pada masa itu. Pada masa itu memang terjadi perang yang
mengakibatkan perang antar manusia dengan saling menghujani peluru dan mesiu
satu sama lain. Cat hitam yang digunakan juga bisa diartikan banyaknya kematian
orang yang ikut dalam peperangan itu.
Warna
cat putih mungkin saja untuk menggambarkan anak – anak, kaum perempuan, kaum
lansia, ataupun orang – orang yang tidak bersalah ikut dalam kerusuhan yang
terjadi pada perang dunia kedua.
Cat
biru dongker yang digunakan pada lukisan itu menggambarkan efek dari kejadian
itu terhadap langit. Selama ini langit digambarkan dengan biru muda, disini
langit digambarkan dengan warna biru dongker karena langit berbuah menjadi
lebih gelap ketika perang dunia kedua.
Warna
coklat sendiri digunakan untuk menggambarkan tanah yang rusak diakibatkan oleh
manusia pada masa itu. Tanah dijadikan tempat ditanamnya bom. Pohon hancur
karena ledakan bom dari manusia. Percikan cat yang ada dipinggir – pinggir
menggambarkan bom Ranjau yang tersisa dan masih ada didalam tanah yang masih
aktif hingga sekarang.
Nama
Autumn Rhythm sendiri saya rasa memiliki arti tersendiri yang diberikan oleh
suami Lee Krasner. Autmn Rhythm jika diartikan kedalam bahasa Indonesia yang
berarti ritme musim gugur. Jika dikaitkan dengan perang dunia kedua, kejadian
itu selesai pada musim gugur. Seniman ingin mencoba menggambarkan seperti apa
dunia setelah perang dunia kedua.
Bisa
saja Pollock melukiskan karyanya hanya untuk menggambarkan kehidupannya ketika musim
gugur betapa berantakannya ia. Mengekspresikan diri melalui warna – warna yang
digunakannya. Meluapkan emosi melalui cat – cat yang dituangkannya.
Jika
kita berbicara masalah selera saya sangat suka dengan lukisan ini dan
mengapresiasinya. Karena sangat sukar sekali meluki pada masa usainya perang
dunia kedua. Hanya seniman hebat saja yang bisa melukis pada masa itu.
Pandangan saya pribadi sangat menyukai lukisan ini dari segi pengaplikasian
karya. Warna dan teknik yang digunakan sangat sulit dimana warna itu tidak
tumpeng tindih antara lainnya. Itu saja kritik dari saya.
Komentar
Posting Komentar