Laut (Part III)
SENANG
Malam yang penuh bintang terlihat diatas langit rumah Ryan,mungkin karena hari ini ia dan kedua temannya pergi diundang ke acara ulang tahun teman SMPnya dulu."eh ian ini beneran ulang tahun temenlu",ucap Yonathan yang sedang mengatur rambutnya dengan pomade.Rian tidak menjawab pertanyaan dari temannya itu,ia hanya memberikan syarat kepala naik turun dimana Rian sedang fokus untuk menyetir mobilnya.
Setelah memasuki komplek yang dituju mereka bertiga bingung karena nomor rumah yang dituju sulit untuk ditemukan.setelah 5 menit mencari akhirnya ketemu yang dimana terlihat rumah itu terlihat sangat besar."Eh buset rumahnya geda amat ya"ucap Yonathan sambil menunjukan raut muka tak percaya,"ini beneran rumah temen lu Ian??"ucap Sinabang sambil memakai sepatu yang ia lepas ditengah perjalanan.
Setelah mereka bertiga ingin masuk kerumah itu,tiba - tiba ada seorang wanita yang menyambut mereka,"Hei Ian sudah lama kita tidak bertemu","iya,nih" ,sial gua lupa lagi siapa namanya ucap Rian didalam hatinya yang sedang menghadapai ketakutan besarnya."hei Rian?,kamu pasti lupa nama aku ya?","iya nih","dasar nama akukan..."ketika wanita itu mau melanjutkan omongannya ternyata ia ditarik oleh seorang cowo menuju panggung pesta ulang tahunnya.
Setelah memasuki komplek yang dituju mereka bertiga bingung karena nomor rumah yang dituju sulit untuk ditemukan.setelah 5 menit mencari akhirnya ketemu yang dimana terlihat rumah itu terlihat sangat besar."Eh buset rumahnya geda amat ya"ucap Yonathan sambil menunjukan raut muka tak percaya,"ini beneran rumah temen lu Ian??"ucap Sinabang sambil memakai sepatu yang ia lepas ditengah perjalanan.
Setelah mereka bertiga ingin masuk kerumah itu,tiba - tiba ada seorang wanita yang menyambut mereka,"Hei Ian sudah lama kita tidak bertemu","iya,nih" ,sial gua lupa lagi siapa namanya ucap Rian didalam hatinya yang sedang menghadapai ketakutan besarnya."hei Rian?,kamu pasti lupa nama aku ya?","iya nih","dasar nama akukan..."ketika wanita itu mau melanjutkan omongannya ternyata ia ditarik oleh seorang cowo menuju panggung pesta ulang tahunnya.
***
"kayaknya pesta kayak 3 hari lalu lagi enak nih"ucap Yonathan kepada Rian sedang sibuk dengan gamenya."kalian mau menginap disini lagi???"ucap Sinabang kepada mereka berdua sambil memegang kopi dan buku yang ia bawa dari kamar,tanpa suara mereka keluar sepertinya Sinabang telah mengerti apa jawaban mereka.
Tok...Tok...Tok...,Terdengar suara pintu rumah Sinabang,tanpa sempat ia meninggalkan bukunya sinabang membuka pintu."Riannya ada?","ada,emang perlu apa ya ?","panggil saja si Rian kesini",Sinabang Akhirnya memanggil Rian yang sedang asik dengan HPnya dan memaksa ia agar bertemu dengan tamu.
Belum sempat Rian berjalan menuju pintu tiba - tiba ia terdiam."hallo Rian,sudah lama tidak berjumpa kita"ucap wanita itu sembari berjalan menuju Rian."kamu...,tahu darimana tempat ini???"tanya Rian sambil menarik tangan sang wanita untuk keluar. "Rian,kamu kemana aja selama ini aku cari'in"ucap sang wanita sembari memeluk Rian. Sinabang yang mengintip dari dalam rumah melihat kejadian itu terkaget dan menghentikan kegiatan mengintipnya. Sudah 3 jam Rian dan Lina berbicara diberanda rumah Sinabang. Lina seorang wanita dengan rambut yang cukup panjang dan berkulit coklat.Ia adalah teman semasa kecil Rian yang pindah ke luar negeri untuk menuntut ilmu disana.Karena sudah sore Lina berpamitan kepada Rian dan Sinabang.Lalu tiba - tiba Yonathan keluar "Manis juga cewe loe"Ucap Yonathan kepada Rian yang terlihat sedang bahagia. Tak seperti biasanya setelah ia bertemu dengan wanita itu Rian tidak bermain game dihari itu.
Tok...Tok...Tok...,Terdengar suara pintu rumah Sinabang,tanpa sempat ia meninggalkan bukunya sinabang membuka pintu."Riannya ada?","ada,emang perlu apa ya ?","panggil saja si Rian kesini",Sinabang Akhirnya memanggil Rian yang sedang asik dengan HPnya dan memaksa ia agar bertemu dengan tamu.
Belum sempat Rian berjalan menuju pintu tiba - tiba ia terdiam."hallo Rian,sudah lama tidak berjumpa kita"ucap wanita itu sembari berjalan menuju Rian."kamu...,tahu darimana tempat ini???"tanya Rian sambil menarik tangan sang wanita untuk keluar. "Rian,kamu kemana aja selama ini aku cari'in"ucap sang wanita sembari memeluk Rian. Sinabang yang mengintip dari dalam rumah melihat kejadian itu terkaget dan menghentikan kegiatan mengintipnya. Sudah 3 jam Rian dan Lina berbicara diberanda rumah Sinabang. Lina seorang wanita dengan rambut yang cukup panjang dan berkulit coklat.Ia adalah teman semasa kecil Rian yang pindah ke luar negeri untuk menuntut ilmu disana.Karena sudah sore Lina berpamitan kepada Rian dan Sinabang.Lalu tiba - tiba Yonathan keluar "Manis juga cewe loe"Ucap Yonathan kepada Rian yang terlihat sedang bahagia. Tak seperti biasanya setelah ia bertemu dengan wanita itu Rian tidak bermain game dihari itu.
***
Pagi hari yang indah, Sinabang meminum kopi didepan rumahnya hal yang biasa ia lakukan setiap hari libur. Menurut dia melakukan kegiatan seperti itu bisa menyegarkan otaknya. ya seperti itulah Sinabang. Tiba - tiba ia melihat Mari sedang lewat, "hei Mari sini main dulu" ajak Sinabang kepada Marilyn. Mari mendengar itu langsung menghampiri Sinabang dan bertanya " ada apa sina ?? tumben nyuruh aku main" tanyanya sembari tersenyum bahagia.
"ah tidak aku hanya ingin berbicara denganmu sebelum waktu kita habis"
"ih, apaan sih(tersipu malu), emangnya waktu apa yang habis ?"
"katanya kamu mau sekolah di Finlandiakan ya ??"
"iya, dan itu sebentar lagi"
"owh gitu ya, baguslah semoga saja kau menemukan pria idamanmu"
"hahaha, kamu bisa aja" ucapnya tersenyum menutupi perasaan yang ia pendam kepada Sinabang selama ini. Sinabang tidak pernah tau akan perasaan si Marilyn kepadanya. Sebenarnya kamulah pria idamanku dan yang aku cintai selama ini ucapnya didalam hati Marilyn yang menunggu Sinabang peka terhadapnya selama ini. Tapi bukan tanpa sebab Sinabang tak peka terhadap perasaan sang wanita itu. Yang terpenting bagi Mari adalah ia masih bisa berbicara panjang lebar bersama Sinabang hingga saat ini, tidak masalah baginya dan dirinya tetap merasa nyaman dengan itu. Karena baginya menunggu hanyalah hal kecil dari pada tidak bertemu dan berbicara dengan lelaki idamannya.
Hari itu terasa panjang bagi mereka berdua. Karena mereka berdua saling menukar cerita hingga larut malam. Merasa sudah malam Mari pun berpamit pulang dan Sinabang mengantarkannya. Mereka berdua berjalan sudah seperti pasangan saja walaupun tidak ada hubungan apa - apa didalamnya. Ternyata Sinabang diajak makan bersama oleh ibunya Mari, Karena merasa tidak enak Sinabang meng"iya"kannya, terlihat Mari tampak senang akan hal itu. Tetapi setelah masuk rumah Mari, pemandangan itu tidak berubah sama sekali sejak ia terakhir main kerumah Mari saat duduk dibangku SMP. Setelah selesai makan malam seperti biasa ibu Mari pasti menanyakan kepada kedua sejoli ini.
"kapan menikahnya?" ucap ibu Mari.
"ih... tuh pa mama membuat ulah lagi" ucap Mari kepada ayahnya yang sedang merokok.
"jangan gitu mah gak sopan..., biarkan mereka mengenal satu sama lain baru dinikahkan"ucap ayah Mari
"ye papah mamah sama aja" ucap Mari dengan senyum malu malu kucing. Sinabang yang tidak mengerti apa - apa hanya terdiam dan hanya menjadi pendengar sembari tertawa atau senyum,jika diperlukan. Karena sudah larut malam Sinabang berpamitan pulang kepada kedua orang tua Mari. "Mari calon suaminya mau pulang tuh, gak kamu antar kedepan ?" goda ibu Mari kepada anaknya itu. Dengan muka malu Mari mengantarkan Sinabang hingga depan rumahnya."Eh tadi yang diomongin orang tua kamu apaan sih ?","itu cuma obrolan keluarga biasa saja","owh begitu, aku pulang ya". Alasan Sinabang Tidak mengerti tadi karena mereka bertiga menggunakan bahasa Finlandia yang tidak dimengerti Sinabang.
"ah tidak aku hanya ingin berbicara denganmu sebelum waktu kita habis"
"ih, apaan sih(tersipu malu), emangnya waktu apa yang habis ?"
"katanya kamu mau sekolah di Finlandiakan ya ??"
"iya, dan itu sebentar lagi"
"owh gitu ya, baguslah semoga saja kau menemukan pria idamanmu"
"hahaha, kamu bisa aja" ucapnya tersenyum menutupi perasaan yang ia pendam kepada Sinabang selama ini. Sinabang tidak pernah tau akan perasaan si Marilyn kepadanya. Sebenarnya kamulah pria idamanku dan yang aku cintai selama ini ucapnya didalam hati Marilyn yang menunggu Sinabang peka terhadapnya selama ini. Tapi bukan tanpa sebab Sinabang tak peka terhadap perasaan sang wanita itu. Yang terpenting bagi Mari adalah ia masih bisa berbicara panjang lebar bersama Sinabang hingga saat ini, tidak masalah baginya dan dirinya tetap merasa nyaman dengan itu. Karena baginya menunggu hanyalah hal kecil dari pada tidak bertemu dan berbicara dengan lelaki idamannya.
Hari itu terasa panjang bagi mereka berdua. Karena mereka berdua saling menukar cerita hingga larut malam. Merasa sudah malam Mari pun berpamit pulang dan Sinabang mengantarkannya. Mereka berdua berjalan sudah seperti pasangan saja walaupun tidak ada hubungan apa - apa didalamnya. Ternyata Sinabang diajak makan bersama oleh ibunya Mari, Karena merasa tidak enak Sinabang meng"iya"kannya, terlihat Mari tampak senang akan hal itu. Tetapi setelah masuk rumah Mari, pemandangan itu tidak berubah sama sekali sejak ia terakhir main kerumah Mari saat duduk dibangku SMP. Setelah selesai makan malam seperti biasa ibu Mari pasti menanyakan kepada kedua sejoli ini.
"kapan menikahnya?" ucap ibu Mari.
"ih... tuh pa mama membuat ulah lagi" ucap Mari kepada ayahnya yang sedang merokok.
"jangan gitu mah gak sopan..., biarkan mereka mengenal satu sama lain baru dinikahkan"ucap ayah Mari
"ye papah mamah sama aja" ucap Mari dengan senyum malu malu kucing. Sinabang yang tidak mengerti apa - apa hanya terdiam dan hanya menjadi pendengar sembari tertawa atau senyum,jika diperlukan. Karena sudah larut malam Sinabang berpamitan pulang kepada kedua orang tua Mari. "Mari calon suaminya mau pulang tuh, gak kamu antar kedepan ?" goda ibu Mari kepada anaknya itu. Dengan muka malu Mari mengantarkan Sinabang hingga depan rumahnya."Eh tadi yang diomongin orang tua kamu apaan sih ?","itu cuma obrolan keluarga biasa saja","owh begitu, aku pulang ya". Alasan Sinabang Tidak mengerti tadi karena mereka bertiga menggunakan bahasa Finlandia yang tidak dimengerti Sinabang.
***
Siang hari yang cerah Sinabang bertemu dengan Yonathan di kantin. "eh Nathan, elu ada acara enggk ?". "gak ada emangnya kenapa?", "gpp hanya ingin basa basi", "ye elu dasar". setelah pembicaraan itu mereka berdua masuk ke kelas masing - masing. Setelah pulang sekolah seperti biasa Yonathan wajib pergi ke mall karena dari segi financial dia adalah orang kaya jadi mungkin menjadi kebiasaan baginya. Karena baginya mall adalah tempat dimana ia bisa nongkrong bersama teman - teman sesama orang kaya. Pernah sekali Yonathan mengajak Sinabang tetapi ia menolaknya karena merasa tidak enak harus nebeng bayar kepada Yonathan. Berbeda dengan Rian ia sangat suka sekali pada saat Yonathan membelikannya makanan dimall. Walaupun keluarga Rian juga dari keluarga yang memiliki kualitas financial tinggi tetapi Rian tidak pernah memilih sahabat seperti yang dilakukan Yonathan kepada Sinabang tidak memandang dari segi financial.
Tetapi Sinabang tidak pernah berpifikiran untuk memanfaatkan kedua temannya. Karena baginya uang pemberian orang tua dan rumah yang ia singgahi sudah lebih dari cukup. Didalam persahabatan mereka pun tidak pernah ada konflik tetang merebutkan wanita karena mereka bertiga mempunyai selera berbeda. Walaupun mereka lebih sering menggoda wanita yang disukai oleh salah satu dari mereka bertiga. Tetapi itu hanya untuk canda gurau saja mereka bertiga sudah terbiasa dengan itu. Yonathanlah yang lebih berpengalaman akan urusan cinta, karena ia sudah bolak - balik ganti pacar. Ya mereka berdua tidak heran dengan Yonathan karena skill dia untuk mendekati wanita sangatlah lihai dibandingkan Sinabang. Ryanlah sebenarnya yang lebih lihai untuk mendekati wanita tetapi ia bertipe cowo yang setia, dia berpacarann minimal jangka waktu 1 tahun dan itu mereka putus secara baik - baik.
Memang jika dilihat dari lama jadiannya Rianlah yang memenuhi syarat minimal menjadi Pria sejati. Berbeda dengan Yonathan ia malah memenuhi syarat minimal menjadi Playboy sejati yang tiada henti memburu wanita. Lain halnya dengan Sinabanag ia hanyalah seorang cowo yang trauma akan kejadian itu, Ryan dan Yonathan saja tidak berani menannyakan hal itu kepadanya.
Tetapi Sinabang tidak pernah berpifikiran untuk memanfaatkan kedua temannya. Karena baginya uang pemberian orang tua dan rumah yang ia singgahi sudah lebih dari cukup. Didalam persahabatan mereka pun tidak pernah ada konflik tetang merebutkan wanita karena mereka bertiga mempunyai selera berbeda. Walaupun mereka lebih sering menggoda wanita yang disukai oleh salah satu dari mereka bertiga. Tetapi itu hanya untuk canda gurau saja mereka bertiga sudah terbiasa dengan itu. Yonathanlah yang lebih berpengalaman akan urusan cinta, karena ia sudah bolak - balik ganti pacar. Ya mereka berdua tidak heran dengan Yonathan karena skill dia untuk mendekati wanita sangatlah lihai dibandingkan Sinabang. Ryanlah sebenarnya yang lebih lihai untuk mendekati wanita tetapi ia bertipe cowo yang setia, dia berpacarann minimal jangka waktu 1 tahun dan itu mereka putus secara baik - baik.
Memang jika dilihat dari lama jadiannya Rianlah yang memenuhi syarat minimal menjadi Pria sejati. Berbeda dengan Yonathan ia malah memenuhi syarat minimal menjadi Playboy sejati yang tiada henti memburu wanita. Lain halnya dengan Sinabanag ia hanyalah seorang cowo yang trauma akan kejadian itu, Ryan dan Yonathan saja tidak berani menannyakan hal itu kepadanya.
Komentar
Posting Komentar